Sidoarjo, Djdeveloper.co.id — Dua hari di halaman sekolah menjadi pengalaman yang berbeda bagi para peserta didik SDN Sruni 2 Gedangan, Sidoarjo. Seragam Pramuka, yel-yel, permainan, perlombaan dan berbagai tantangan berpadu menjadi sebuah proses pembelajaran yang tidak ditemukan hanya dengan duduk di dalam ruang kelas.
Sabtu hingga Minggu, 12–13 September 2026, pangkalan SDN Sruni 2 Kwarran Gedangan, Jalan Kramat No. 393, Gedangan, Sidoarjo, menjadi tempat berlangsungnya Lomba Tingkat I (LT I) Pramuka Penggalang Kwarran Gedangan.
Suasana sejak awal kegiatan terlihat penuh semangat. Teriakan yel-yel terdengar bersahutan. Para peserta bergerak cepat menyelesaikan setiap tantangan. Ada yang serius berkonsentrasi, ada pula yang tertawa ketika menghadapi permainan yang membutuhkan ketangkasan dan kekompakan.
Namun, di balik suasana riang tersebut, terdapat proses pendidikan yang sengaja dibangun.
LT I tidak dirancang semata-mata untuk mencari siapa yang paling unggul atau siapa yang berhak membawa pulang piala. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk menguji kemampuan, melatih keberanian, membangun kemandirian, serta belajar bekerja sama dalam sebuah tim.
Tema “Bersama Persami Kita Menuju Pribadi yang Berbudi, Mandiri dan Berani” menjadi gambaran besar dari semangat kegiatan tersebut.
Nilai berbudi, mandiri dan berani tidak hanya disampaikan melalui kata-kata. Para siswa diajak mengalami sendiri bagaimana rasanya menghadapi tantangan, menerima instruksi, mengambil keputusan, bekerja dalam kelompok, menyelesaikan tugas dan menghadapi hasil dari setiap perlombaan.
Dari Teori Menjadi Praktik
Bagi Kepala Sekolah SDN Sruni 2 sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus), Ariyani Purwaningsih, S.Pd., LT I mempunyai tujuan yang lebih jauh daripada sekadar kompetisi.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana materi kepramukaan yang selama ini diberikan dalam latihan dapat dipahami dan dipraktikkan oleh peserta didik.
“Tujuan utamanya tentu ingin mengetahui kompetensi adik-adik di kepramukaan setelah berlatih di sekolah. Jadi, apa yang diperoleh di sekolah itu kita lombakan,” ujar Ariyani.
Di sinilah perbedaan antara mengetahui dan mampu melakukan diuji.
Siswa mungkin telah mengenal semaphore, Morse, tali-temali maupun PBB melalui latihan. Namun, ketika materi tersebut ditempatkan dalam suasana perlombaan, mereka dituntut untuk menunjukkan kemampuan secara langsung.
Ada tekanan waktu. Ada tuntutan ketelitian. Ada komunikasi antaranggota regu. Ada keputusan yang harus diambil bersama.
Semua itu menjadi pengalaman yang berharga bagi perkembangan mental anak.
Puluhan Tantangan, Satu Tujuan
Rangkaian LT I dikemas dengan berbagai materi yang menyentuh banyak aspek kemampuan peserta.
Koordinator Satuan sekaligus panitia penyelenggara LT I, Suliasih, S.Pd., menjelaskan bahwa sedikitnya terdapat lima kelompok keterampilan yang dikompetisikan.
Pada bidang keterampilan kepramukaan, peserta menghadapi materi semaphore, Morse, sandi, PBB, tali-temali, pionering, KIM hingga sketsa panorama.
Kemampuan akademik dan komunikasi turut diasah melalui Rangking 1, membaca puisi dan pidato.
Sementara itu, sisi kreativitas peserta diuji melalui hasta karya, melukis, dance semaphore, yel-yel dan jingle.
Untuk ketangkasan, peserta mengikuti PBB, dart, lempar bola serta permainan sendok kelereng.
Bahkan kemampuan praktis dalam kehidupan sehari-hari tidak luput dari penilaian. Peserta harus menunjukkan keterampilan memasak sekaligus menata meja makan.
Rangkaian materi tersebut membuat LT I tidak monoton.
Setiap perlombaan mempunyai karakter tantangan berbeda. Ada yang membutuhkan kecepatan, ketelitian, keberanian tampil di depan orang lain, kreativitas, kekuatan fisik hingga kemampuan membangun komunikasi dalam kelompok.
“LT I ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mempraktikkan secara langsung apa yang selama ini mereka pelajari dan latih di sekolah. Jadi bukan hanya tahu teorinya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan nyata,” kata Suliasih.
Menang dan Kalah Sama-Sama Belajar
Dalam sebuah perlombaan, kemenangan memang menjadi sesuatu yang diharapkan.
Namun, bagi penyelenggara LT I, hasil akhir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Anak yang belum berhasil meraih juara tetap pulang membawa pengalaman. Mereka belajar menerima hasil, memahami kekurangan dan mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki.
Sebaliknya, peserta yang berhasil menjadi juara juga mendapatkan pelajaran penting. Kemenangan tidak datang dengan sendirinya, melainkan melalui latihan, kedisiplinan, kerja sama dan sportivitas.
Dengan cara tersebut, kompetisi tidak diarahkan untuk menciptakan persaingan yang saling menjatuhkan.
Sebaliknya, persaingan menjadi sarana untuk mendorong siswa agar berani memberikan kemampuan terbaiknya.
Kebersamaan Menjadi Kekuatan
Suliasih juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Menurutnya, keberhasilan LT I tidak terlepas dari kerja sama jajaran guru, penjaga sekolah, pembina Pramuka, komite sekolah dan berbagai pihak yang ikut membantu sejak persiapan hingga pelaksanaan.
“Saya sangat berterima kasih atas kerja sama dan dukungan dari semua pihak, sehingga acara LT I dapat terlaksana dengan baik. Bagi kami, kebersamaan dalam seluruh proses ini adalah prestasi yang terbaik,” tuturnya.
Kalimat tersebut menjadi penting karena semangat Pramuka sendiri tidak dapat dipisahkan dari kebersamaan.
Siswa belajar bahwa keberhasilan sebuah regu tidak ditentukan oleh satu orang. Setiap anggota mempunyai peran. Ada yang memimpin, ada yang menjalankan tugas, ada yang memberi semangat dan ada yang memastikan kelompok tetap kompak.
Dari proses sederhana tersebut, anak-anak belajar mengenai tanggung jawab sosial.
Pendidikan Karakter Tidak Berhenti di Lapangan
Ariyani melihat kegiatan kepramukaan sebagai salah satu ruang strategis untuk membentuk karakter peserta didik.
Menurutnya, anak-anak tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik. Mereka juga perlu memiliki mental kuat, rasa tanggung jawab, kemandirian, kemampuan berkomunikasi dan keberanian menghadapi persoalan.
Kegiatan di luar kelas menjadi salah satu media untuk menanamkan nilai tersebut.
Meski kegiatan berlangsung dalam suasana Persami dan perlombaan, pembiasaan nilai agama tetap diperhatikan.
Peserta diarahkan untuk menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing, mengikuti kegiatan secara disiplin, menghormati sesama serta berkompetisi secara sehat.
“Walaupun kami berkegiatan di luar kelas, tetap anak-anak kita pastikan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya, memahami nilai kerja keras, tanggung jawab, kemandirian, kekompakan, dan juga berkompetisi dengan sehat,” jelas Ariyani.
Antusiasme siswa, lanjutnya, sudah terlihat sejak sebelum kegiatan berlangsung.
“Para peserta sangat antusias sekali. Saya melihat adik-adik mempersiapkan diri dengan sangat-sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini,” ungkapnya.
Juara Hanya Satu Bagian dari Perjalanan
Ada satu pesan yang terus ditekankan dalam kegiatan tersebut: juara bukan segala-galanya.
Piala akan tersimpan di sekolah. Sertifikat dapat menjadi kenang-kenangan. Namun, pengalaman yang terbentuk dalam diri siswa diharapkan jauh lebih lama bertahan.
Keberanian berbicara di depan orang lain, kemampuan bekerja sama, disiplin mengikuti aturan, kemandirian menyelesaikan tugas, serta keberanian menghadapi kegagalan merupakan bekal yang akan dibawa anak-anak dalam perjalanan mereka berikutnya.
Apalagi LT I juga menjadi bagian dari proses penjaringan peserta terbaik untuk dipersiapkan menuju Lomba Tingkat II (LT II) di jenjang kwartir yang direncanakan berlangsung pada akhir September.
Karena itu, setiap tantangan dalam LT I bukan hanya menjadi perlombaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenali dirinya sendiri.
Mereka belajar mengetahui apa yang sudah dikuasai dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Nilai Pramuka Harus Dibawa Pulang
Bagi Ariyani, justru setelah kegiatan selesai tantangan pendidikan yang sebenarnya dimulai.
Sebab, nilai-nilai yang dipelajari selama Persami tidak boleh berhenti di lapangan.
Disiplin seharusnya tetap dilakukan ketika siswa kembali ke rumah dan sekolah. Kemandirian harus terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Keberanian tidak hanya diperlukan saat mengikuti lomba. Sementara sikap menghargai orang lain harus menjadi bagian dari kehidupan sosial.
“Di Pramuka itu harapan kami tidak hanya seremonial, tidak hanya lambang dan simbol, baju dan segala atribut. Tapi lebih jauh lagi, Pramuka itu harus mendarah daging dalam implementasi kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Bahkan bagi Ariyani, Pramuka mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan ekstrakurikuler.
“Pramuka bagi saya bukan hanya kegiatan, tapi adalah pilihan hidup, jalan hidup untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” pungkasnya.
Dua hari pelaksanaan LT I akhirnya meninggalkan pesan yang lebih besar daripada sekadar daftar pemenang.
Di balik yel-yel yang bergema, permainan yang mengundang tawa, tantangan yang menguras tenaga dan perlombaan yang memacu semangat, terselip sebuah proses pendidikan karakter.
Anak-anak belajar bahwa hidup membutuhkan keberanian untuk mencoba.
Mereka belajar bahwa setiap persoalan akan lebih mudah diselesaikan melalui kerja sama. Mereka belajar bahwa kemenangan harus diraih dengan usaha, sementara kekalahan harus diterima dengan lapang dada dan dijadikan bahan evaluasi.
Dan yang paling penting, mereka belajar bahwa menjadi Pramuka bukan hanya tentang mengenakan seragam atau mengikuti perkemahan.
Pramuka adalah tentang bagaimana nilai disiplin, kemandirian, tanggung jawab, keberanian dan kebersamaan perlahan menjadi bagian dari karakter.
Sebab, prestasi terbaik bukan semata-mata siapa yang berdiri di podium, melainkan siapa yang pulang dari kegiatan dengan mental yang lebih kuat, sikap yang lebih baik dan keberanian untuk terus tumbuh.
Eka Aristiya Juni




